Kekayaan dan Kemiskinan Hakiki

Al Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Harta benda merupakan bagian dari rizki yang telah ditetapkan oleh Allah azza wa jalla atas setiap hamba. Sebagian dilebihkan atas sebagian yang lain. Sehingga muncullah sebutan kaya dan miskin. Akan tetapi, siapakah sebenarnya orang yang disebut kaya dan miskin?

f-046-0126.jpg

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كًثْرَةِ الْعَرَضِ وَلْكَنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup yang ada didalam hati.” (HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051 dari Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rakhumullah berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini :
“Alhasil, orang yang disifati dengan ghina an-nafs (kekayaan jiwa) adalah orang yang qana’ah terhadap apa yang Allah azza wa jalla rizkikan kepadanya. Dia tidak tamak untuk menumpuk-numpuk harta tanpa ada kebutuhan. Tidak pula dia meminta-minta kepada manusia dengan mendesak. Dia merasa ridha dengan apa yang diberikan Allah azza wa jalla kepadanya, seakan-akan ia terus-menerus merasa cukup.
Sedangkan orang yang disifati dengan faqru an-nafs (kefakiran jiwa) adalah kebalikannya. Karena dia tidak qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya. Dia selalu rakus untuk menimbun kekayaan, dari arah mana saja. Kemudian, bila dia tidak mendapatkan apa yang dia cari, ia akan merasa sedih dan menyesal. Seakan-akan dia adalah orang yang tidak memiliki harta. Karena dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, sehingga seakan-akan dia bukan orang yang kaya.” (Fathul Bari, 2/277)
Demikian pula, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah menyebutkan orang yang pada hakikatnya miskin, seperti dalam sabda beliau shalallahu alaihi wassalam :

“Bukanlah orang yang miskin itu orang yang meminta-minta kepada manusia untuk diberi satu atau dua suap makanan, dan satu atau dua butir kurma. Akan tetapi orang yang miskin itu adalah orang yang tidak memiliki (rasa cukup dalam hatinya yang membuat dirinya tidak meminta-minta kepada orang lain) dan orang yang tidak menyembunyikan keadaannya, sehingga orang bersedekah kepadanya tanpa dia meminta-minta.” (HR. Al-Bukhari no. 1479 dan Muslim no. 1472 dari Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata rakhumullah berkata :
“kecukupan dalam hati akan tumbuh dengan keridhaan terhadap qadha Allah azza wa jalla dan berserah diri terhadap ketetapan-Nya, meyakini bahwa apa yang ada disisi Allah azza wa jalla adalah lebih baik dan kekal, sehingga membawa dirinya berpaling dari tamak dan rakus serta meminta-minta kepada manusia.” (Fathul Bari, 2/277)
Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : rubrik Oase majalah Asy Syariah no. 37/IV/1429H/2008

Comments are closed.

%d bloggers like this: