Menghias dan Mengukir Masjid, Mengeluarkan Dana yang Besar Untuk Memoles dan Mempercantik Masjid Sehingga Nuansa Spiritualnya Hampir Hilang

( Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan )

rose.jpg

Al-Hakim (orang yang arif), Tirmidzi telah meriwayatkan hadits denga sanad yang dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, : “Apabila kamu telah menghias masjid-masjidmu dan menghias mushaf-mushaf Al-Quranmu, maka tunggulah kehancuran yang akan menimpa dirimu.”1)

Az-Zarkasyi berkata dalam kitab I’lamu ‘l-Masajid bi Ahkami ‘l-Masajid, hal. 337, Permasalahan ke 29, yang teks aslinya sebagai berikut, ”Dimakruhkan menghias masjid.” Disebutkan dalam Sunan Abi Dawud dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

ما أمر ت بتثييد المساجد

“Aku tidak diperintah untuk menghias masjid-masjid”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Sungguh masjid-masjid itu kelak akan dihiasi berwarna-warni, sebagaimana orang-orang yahudi dan orangorang nasrani suka melakukannya (terhadap tempat-tempat ibadah mereka).”2)

Diriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata : Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

لاتقوم الساءةحتى يتباهى الباس في المساجد

“kiamat tidak akan terjadi sebelum manusia saling membanggakan diri dalam (menghias dan membangun) masjid-masjid.”

Bukhori meriwayatkan dalam shahihnya3) bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah menyuruh membangun masjid seraya berkata, “lindungilah manusia dari hujan dan janganlah kamu mewarnai dengan warna merah atau kuning, sehingga dapat memfitnah manusia.”

Abu Darda’ berkata, “Apabila kamu telah menghias mushaf-mushaf Al-Quranmu dan menghas masjid-masjidmu, maka tunggulah kehancuran yang akan menimpa dirimu.” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apabila suatu masyarakat telah mengangkat masjid-masjid mereka (setinggi-tingginya), maka rusaklah segala amal mereka…”.

Al-Hafizh berkata dalam kitab Al-Fath X/540, “Al-Baghowi berkata,’Kata Tasyyid artinya meninggikan bangunan dan memperpanjangnya. Sesunggguhnya orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani itu suka menghias tempat-tempat ibadahnya ketika mereka mengubah dan mengganti kitab-kitab mereka.”

Syaikh ‘Ali Mahfuzh berkata dalam kitab Al-Ibda’ hal. 183, “termasuk bid’ah yang dimakruhkan ialah mengukir masjid-masjid dan menghias mihrab-mihrab. Menghias mihrab-mihrab itu jauh lebih dimakruhkan daripada menghias bagian-bagian masjid lainnya. Karena ia dapat mengganggu hati orang yang shalat. Disamping itu, hal yang demikian tidak pernah ada pada masa generasi pertama. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah menyuruh membangun masjid seraya berkata kepada para tukang bangunan, “Lindungilah manusia dari hujan dan janganlah kamu mewarnai masjid dengan warna merah atau kuning.”

Adapun orang yang pertama kali menciptakan bid’ah tentang menghias masjid-masjid ini ialah Walid bin ‘Abdul Malik ketika ia mengutus Kholid bin ‘Abdulloh Al-Qosri.

Kesimpulannya, sesungguhnya orang-orang salaf radhiyallahu ‘anhu memakruhkan menghias masjid-masjid dan arah kiblat (mihrab) dengan perhiasan.

(dikutip dari kitab Al-Masjid fi ‘l-Islam)

1) Al-Manawi telah mencantumkan hadits itu dalam Faidhu ‘l-Qodir I/367. Al-Hakim Tirmidzi dan Ibnul Mubarok dalam kitab Az-Zuhd telah menisbatkan hadits itu dari Abu Darda’ dengan sanad yang dho’if.

2) Diriwayatkan oleh Abu Dawud 448, Ibnu Hibban 1615 dan Baihaqi II/438 dengan sanad yang kuat.

3) Perkataan ‘Umar yang disebutkan Bukhori secara mu’allaq tersebut ada dalam Bab Bunyanu ‘l-masjid sebelum hadits (446).

 

ditulis ulang dari : ensiklopedi kesalahan ibadah (Irsyadat ‘an Ba’dhil Mukholafat Fi ‘th-Thoharoh, Ash-Sholah, Al-Masajid)

Comments are closed.

%d bloggers like this: